Sepertinya saya benar-benar sudah merasakan adanya cinta pada JDP (Journalist Development Programme). Saya bersyukur untuk "penasaran akut" yang Tuhan berikan hingga mengantar saya ke mading dan membaca sebuah pengumuman "Kunjungan Media Tempo dan MetroTv" 18 Juni lalu. Kunjungan media ini merupakan rangkaian kegiatan pelatihan jurnalistik yang diadakan tahunan oleh teman-teman dari Universitas Mercu Buana. Pelatihan ini berlangsung selama beberapa hari. Kali pertama saya membaca pengumuman ini ketika saya dan 2 orang teman mengikuti seminar "PR Week" di UMB. Sama halnya dengan pelatihan jurnalistik, PR Week juga rutin diadakan setahun sekali. Awalnya saya hanya iseng melihat-lihat isi mading sambil menunggu teman yang belum juga datang. Sampai akhirnya mata saya tertumpu pada pengumuman itu. Saya segera mencatat tanggal, tempat, HTM, CP. Semua kegiatan ini menarik untuk diikuti. Tapi sayangnya saya baru mengikuti hari terakhir. Tak apalah, toh tetap bermanfaat. :D
Saya melalui perjalanan jauh nan melelahkan ditambah kemacetan di Jakarta Barat. Tapi cukup terhibur dengan teman-teman UMB. Rencananya kunjungan pertama ke Tempo, tapi dibatalkan dan dialihkan ke The Jakarta Post. Di JakPost sangat monoton. Saya hanya pasif dan berusaha menjadi pendengar yang baik. :D Setelah selesai, kita langsung meluncur ke MetroTv. Saya baru pertama kali ke sana. Dan... Wow its amazing place. Love at first sight gitu deh. Hehehe.. Lebih mirip seperti hotel. Luas dan nyaman. :D Saya mulai menikmati suasana di MetroTv. Meresapi setiap pemandangan yang terhampar di depan mata saya. Saya serta teman-teman disambut oleh Humas MetroTv, Mba Retno dan Bu Henny. Mereka menjelaskan banyak hal tentang MetroTv. Dari Bu Henny pula saya tau JDP.
JDP merupakan salah satu pengembangan karir untuk melatih serta mendidik menjadi jurnalis. Selain ditraining (persiapan menjadi jurnalis profesional), kita juga mendapat sallary perbulannya. Kerja sambil belajar. :D Setelah selesai sharing, kami diajak mengelilingi MetroTv. Dari ruang produksi, studio news (misalnya: MHI, Suara Anda), hingga nonnews (misalnya: Kick Andy, Just Alvin). Di sebuah koridor terpajang news reader MetroTv. Foto mereka dibingkai dan ada nama mereka di bawah bingkai. Saya terpesona dengan segala yang ada di sana. Tidak berlebihan rasanya jika tempat itu dikagumi dan siapapun ingin bekerja di MetroTv.
Di setiap langkah, helai nafas, panjatan doa, usaha, keputusan bahkan pilihan tersulitpun terselip MetroTv. Saya bercita-cita bekerja sebagai Jurnalis MetroTv. (kelak) saya bermimpi menggantikan Fessy Alwi, Kania Sutisna, Najwa Shihab untuk menjadi news reader. Tapi tetap fokus utama saya sebagai Jurnalis. Tidak berkeberatan menikah 3-4tahun mendatang (iya kalau dikasih jodoh. Kalau nggak? www.pede.com. Hahaha..) demi menjadi Jurnalis MetroTv.
Saya ingat perbincangan saya dengan Pak Doddy (seorang wartawan senior online) di Perpustakaan Nasional Balaikota. Saya utarakan keinginan bekerja di Dewan Pers. Tapi beliau mengatakan, "kalo mau kerja jangan tanggung-tanggung. Langsung terjun jadi wartawan. DP hanya pengawas". Haa saya semakin mengerti. Terimakasih untuk pencerahannya Pak! :D
Tuhan, terimakasih untuk setiap kesempatan yang Kau beri tanpa aku sadari. Terimakasih karena telah mempertemukan aku dengan orang-orang hebat yang mengubah cara pikir ku. Terimakasih untuk pola hidup yang tidak pernah aku duga. Terimakasih..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar